Diskusi Buku “Islam dan Kebebasan”

Diskusi ini membahas buku “Islam dan Kebebasan” yang terbit pada 2017. Buku ini merupakan edisi terjemahan dari judul asli “Islamic Foundations of a Free Society” yang terbit tahun 2016. Acara diskusi yang merupakan kerjasama CRCS UGM, Jaringan Gusdurian, dan Suara Kebebasan ini dibersamai oleh Ketua Program Studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM, Dr. Zainal Abidin Bagir selaku narasumber.

Dr. Zainal Abidin Bagir membuka sesi diskusi dengan pemaparan bahwa tujuan utama penulisan buku ini adalah menjawab pertanyaan “Apakah ada kompabilitas antara Islam dan Kebebasan?”. Tanpa bermaksud memberikan spoiler bagi para hadirin yang belum membaca, komentar beliau akan berfokus pada dua poin utama. Kedua poin itu adalah menempatkan buku ini pada peta besar pemikiran Islam modern dan menilai kelebihan dan kekurangan buku ini dalam konteks Islam masa kini.

Buku tersebut dimulai dari latar belakang cikal bakal gerakan modernisme dalam Islam. Gerakan ini mulai muncul dan sering digaungkan dalam Islam pada sekitar abad XIX M, saat Islam harus mengalami kemunduran dan kekalahan dari dunia Barat. Sebagaimana telah diakui oleh banyak sejarawan dan cendekiawan bahwa Islam pernah memasuki masa keemasan dan menjadi superpower. Berbagai sejarawan masih berdebat antara rentang waktu kejayaan dan keemasan Islam. Namun, sejak abad VII M, Islam telah menyebar di jazirah Arab kemudian merambah Afrika, Eropa, Persia, hingga India. Islam mulai mengalami kemunduran pada abad XII M dengan runtuhnya Dinasti Abbasiyyah dan wafatnya al-Ghazali (1111 M), meski mayoritas sejarawan mengklaim kemunduran Islam dimulai pada rentang abad XV M dan XVI M.

Satu hal yang pasti, Islam mengalami kemunduran dan kekalahan. Kemunduran Islam ini menimbulkan banyak pertanyaan akan faktor dan sebab kemerosotannya setelah berjaya sekian lama. Bagian pertama buku ini menjabarkan beberapa faktor tentang mundurnya Islam pada era tersebut. Dari pertanyaan tersebut gerakan modernism dalam Islam mulai bermunculan pada pertengahan abad XVIII M – XIX M sebagai respon dalam memahami penyebab kemunduran Islam dan mencari solusi agar dapat menyamai atau bahkan mengejar peradaban Barat yang mulai berkuasa. Salah satu konsep yang ditawarkan kepada Islam sebagai solusi dari kemundurannya adalah kebebasan atau yang sering dimaknai sebagai liberalisme.

Buku ini bermaksud menjabarkan posisi Islam apakah harus selalu bertentangan dengan liberalisme? Ataukah sebuah keharusan bagi Islam untuk mengadopsinya sebagai jawaban dari tantangan zaman yang semakin kompleks? Buku ini menawarkan bahkan mengkampanyekan bentuk liberalisme yang dapat menjadi solusi dan jalan keluar dari keterpurukan Islam saat ini. Karena berbagai kriteria dan indikator dari keterpurukan Islam saat ini amat nyata dan banyak ditemui, mulai dari urusan ekonomi, ilmu pengetahuan, politik, militer, hingga moralitas.

Mendengar kata “liberalisme” pada kalimat di atas tentu mulai memancing reaksi dari banyak pihak. Hal tersebut dirasa wajar karena adanya fatwa MUI pada tahun 2005 yang menyatakan bahwa sekularisme, pluralisme, dan liberalisme adalah haram. Karena bentuk fatwa yang berisi ringkas, maka definisi yang dialamatkan pada liberalisme juga tergolong minim dan tidak menyentuh ide pokok dari wacana tersebut. Karenanya, wacana liberalisme yang seharusnya menarik dan dapat dipahami dari berbagai perspektif di Indonesia saat ini  hanya berkutat pada halal-haram. Buku ini memberikan narasi alternatif tentang definisi liberalisme, berbagai bentuknya, dan definisi kebebasan itu sendiri pada bab kedua.

Dr. Zainal juga menambahkan bahwa gagasan inti dari liberalisme adalah kebebasan memilih. Setiap manusia bebas memilih mau jadi apa dia. Namun dalam memperoleh kebebasan memilih, ia harus tahu pilihan apa yang tersedia, ia harus memiliki kapabilitas dalam menerima dan menjalankan konsekuensinya, dan dapat memilih dengan bijak bagi dirinya. Apapun bentuk pilihan yang ia ambil tidak begitu penting, karena ide pokoknya adalah kebebasannya dalam memilih dan menerima semua konsekuensi dari pilihannya.

Liberalisme juga sejatinya tidak harus bertentangan dengan agama. Paham ini menekankan individual, diri sendiri, dan otonomi diri. Sebagai implikasinya, paham ini tidak setuju dengan peran negara yang terlalu besar dalam ruang pribadi individu. Beberapa negara yang berasas agama menentang paham ini karena mereka telah memiliki konsepsi tersendiri akan model dan bentuk ideologi rakyatnya. Buku ini memberikan jawaban bahwa nilai-nilai liberalisme dapat sejalan dengan konsep Islam. Tentu saja perlu dipahami bahwa liberalisme yang dimaksud di sini adalah liberalisme yang memiliki banyak macamnya dan tidak terpaku pada satu definisi saja.

Poin selanjutnya adalah melihat sisi penting buku ini beserta ide di dalamnya bagi masa kini. Judul buku ini yang menekankan kebebasan memperlihatkan bahwa titik berangkat para penulisnya adalah kebebasan, termasuk bebas menjadi seorang muslim yang baik. Pada masa ini, konsepsi Islam banyak dikaji dari berbagai perspektif dan standar seperti keadilan, perdamaian, dan lain sebagainya. Buku ini memilih kebebasan sebagai titik tolak semua ide dalam Islam dengan berbagai kriteria yang disebutkan di atas.

Dari segi peta besar pemikiran Islam modern, ide-ide yang terkandung dalam buku ini memberikan alternatif lain dalam tipologi pemikiran Islam. Buku ini tidak terlalu berat untuk dikonsumsi khalayak umum, pada, dan menjelaskan dengan ringan bahwa liberalisme nyatanya tidak seburuk itu. Liberalisme pada hakekatnya memiliki banyak macam dengan berbagai definisi. Karena kata liberalisme sudah mendapat preseden buruk di Indonesia, lantas sangat sedikit mereka yang ingin mempelajarinya. Padahal tidak semua liberalisme dipahami dengan definisi yang saat ini jamak beredar. Buku ini merupakan salah satu solusi untuk memberikan perspektif baru atau narasi alternatif tentang liberalisme dalam Islam.

Terakhir, buku secara pribadi sangat dianjurkan bagi masyarakat muslim, baik mereka anti-liberalisme maupun mereka yang mendukung liberalisme. Ketakutan akan kata tersebut membuat wacana yang beredar menjadi samar-samar, bahkan kabur. Mereka yang anti-liberalisme perlu membaca buku ini untuk menelisik bagaimana liberalisme yang ditawarkan kepada Islam. Adapun mereka yang mendukung liberalisme juga harus mengetahui liberalisme macam apa yang mereka dukung dan gagasan pokok apa yang ingin disampaikan oleh paham tersebut. Semua ini semata-mata untuk menilai suatu paham seobyektif mungkin, sehingga dapat mengetahui dengan pasti model paham apa yang mereka musuhi dan model paham apa yang mereka dukung dan banggakan.

Yogyakarta, Sya’ban 11, 1439/April 27, 2018

 

Buku ini dapat diunduh versi bahasa Inggris dan Indonesianya di situs berikut

https://suarakebebasan.id/free-ebook-islam-dan-kebebasan/ 

https://iea.org.uk/wp-content/uploads/2016/10/Islamic-Foundations-of-a-Free-Society.pdf

https://iea.org.uk/wp-content/uploads/2017/11/Indonesian-1710-Islamic-Foundations-Online.pdf

1 thought on “Diskusi Buku “Islam dan Kebebasan””

  1. Pingback: Hijrah Untuk Meraih Kemerdekaan - Yuanggakurnia.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top