Berasyik Masyuk bersama Tuhan Yang Maha Asyik (2)

Beragama
seringkali didefinisikan sebagai sebuah kegiatan ritual yang sulit dan
mengikat. Ia bersifat formal, seringkali dipisahkan dari kewajiban duniawi, dan
hanya terikat pada halal-haram segala hal. Beragama juga lekat dengan
‘perjanjian surga dan neraka’. Surga dapat diraih dengan peribadatan yang baik
dan sebaliknya, neraka merupakan ganjaran bagi siapapun yang membangkang.
Menurut Sudjiwo Tedjo dan M. Nur Samad Kamba, prinsip agama model seperti ini
adalah prinsip transaksional (2020: 161).


Hal
inilah yang membuat agama dan seluruh ajarannya ‘terkesan’ menjauh dari
kehidupan manusia. Ia seringkali dianggap hanya pelengkap identitas seseorang
di kehidupan sosialnya sehingga mampu tergabung ke kelompok Muslim, Kristen,
Hindu, atau Penghayat. Padahal, agama adalah petunjuk bagi seluruh manusia
untuk membantu menunaikan tugas yang diembannya di dalam hidup ini dan di muka
bumi (2020: 27).

Oleh
karenanya, Sudjiwo Tedjo dan Muhammad Nur Samad Kamba banyak menyinggungnya
dalam buku ‘Tuhan Yang Maha Asyik 2’ ini. Keduanya bahkan memberikan definisi
yang mudah tentang apa itu agama, apa itu Tuhan, dan bagaimana beragama itu.
Tuhan adalah kebaikan absolut. Seseorang dianggap bertuhan saat ia melakukan
kebaikan. Ia dianggap bertuhan saat ia menebar cinta kasih kepada seluruh
makhluk-Nya (2020: 31). Agama, menurut mereka, adalah gambaran tentang laku
kebaikan (2020:56). Bila demikian definisi yang dianut, maka beragama dan
bertuhan adalah satu kesatuan yang tidak mungkin terpisahkan.

Namun,
hal yang seringkali terjadi adalah seseorang beragama namun tidak bertuhan
(2020:30). Maksudnya adalah ketika agama diartikan dalam sistem aturan keimanan
dengan serangkaian ibadah formal dan ritual penghambaan di tempat ibadah, tidak
sedikit mereka yang menunaikan seluruh kewajibannya secara ritual formal namun
tidak jua menampakkan kebaikan Tuhan yang Absolut kepada makhluk-Nya bahkan
kepada diri sendiri. Peribadatan sendiri merupakan bakti dan tidak terbatas
pada ritual ragawi semata (2020: 30). Ketika seseorang telah bekerja, meneliti,
menulis, dan melakukan berbagai tugas ‘duniawinya’ untuk kepentingan dan
kemashlahatan orang banyak, maka saat itulah ia tengah beribadah. Ibadah yang
pahala (atau lebih tepatnya adalah manfaatnya) dapat dirasakan lebih luas.
Semua tugas ini tidak lain adalah dalam rangka meneladani Tuhan dengan segala
kebaikanNya yang Absolut.

Buku
ini juga mengajak kita untuk tidak serta merta menafsirkan firman Tuhan dalam
arti sempit. FirmanNya yang tertuang dengan kata-kata di dalam Kitab Suci
memiliki banyak jebakan kata-kata. Padahal di tiap kata memiliki nuansanya
masing-masing. Tiap kata juga tidak selalu dapat menggambarkan maksud dari
firmanNya Yang Maha Suci. Terkadang ia hanya bisa diekspresikan dengan bahasa
musik, bahasa isyarat, bahasa hati, bahasa gambar, bahasa bau, dan lain
sebagainya (2020: 188-192). Orang yang tidak bisa berbahasa Arab, bukan tidak
mungkin menangis saat mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an yang berbicara
tentang Tuhan dan segala KemurahanNya. Persis seperti saya yang beberapa kali
tersentuh kala mendengarkan lagu ‘So will I’ dari Hillsong Worship dan ‘You
Say
’ dari Lauren Daigle meski tanpa subtitle.


Bila
di dalam Kitab Suci berbunyi ‘wajib’, ia tidak selalu terkesan sebagai sebuah
perintah. Terkadang ia bernuansa kasih sayang, nasihat yang penuh kemesraan dan
kelembutan, rayuan, ajakan lembut, dan lain sebagainya. Namun, bila kita hanya
membatasi pada sistem bahasa yang berlaku, Kitab Suci tak ubahnya Kitab yang
hanya berisi larangan dan perintah saja. Oleh karenanya, kedua penulis
berkali-kali menyebutkan bahwa Kitab Suci merupakan Kitab Pedoman Instruksional
yang didapat saat membeli peralatan elektronik. Ia hanya berisi anjuran-anjuran
agar kita dapat menggunakan hidup ini dengan sebaik mungkin dan sebermanfaat
mungkin. Bila melanggar buku tersebut, hidup kita tak ubahnya kehidupan yang
hampa.

Agama
dan penafsirannya seringkali didominasi (bahkan dimonopoli) oleh kelompok agama
untuk melanggengkan otoritas kekuasannya. Alih-alih menaungi kelompok orang
untuk bersama melakukan kebaikan dan kebajikan, mereka justru berselingkuh
dengan kepentingan di luar agama dengan menggunakan topeng agama, bahkan Tuhan.
Kelompok keagamaan seringkali terlibat langsung dalam kontestasi dalam kelompok
masyarakat. Padahal sejatinya, kelompok agama menaungi seluruh kelompok
masyarakat dengan cahanya yang rahmatan lil ‘alamin.


Membaca
buku ini membuat saya pribadi banyak tertegun, merenung, dan juga tersindir.
Agama yang kita pelajari seringkali hanya terbatas pada mengetahui ‘definisi’
agama, tidak sampai kepada mengetahui apa itu agama, apalagi menjalankan hidup
yang penuh dengan nilai agama. Prinsip transaksional membuat hubungan kita
dengan Tuhan menjadi penuh syarat. Padahal, Dia Maha Cinta tanpa syarat. Bila
kita berbuat baik sedikit, Ia melipatgandakan ganjarannya. Bila kita berbuat
buruk, Ia tetap selalu setia mengampuni kita.

Tuhan
Yang Maha Pemurah seringkali digambarkan sebagai ‘sosok’ yang eksklusif. Padahal,
jika kita kembali merenung, Tuhan justru sangat inklusif. Ialah yang
menciptakan semesta raya ini dengan berbagai perbedaannya agar kita dapat
saling mengenal, memahami, dan hidup dalam harmoni yang indah. Tuhan tidak
menetapkan satu perbuatan saja yang disebut baik, namun kebaikan itu
termanifestasi dalam banyak hal.
Tanpa
sadar, kita diajak bermain logika dan juga belajar sedikit demi sedikit tentang
tasawuf di dalam buku ini. Seluruhnya dikemas ringan dengan ilustrasi
percakapan 7 sahabat kecil, yaitu Parwati, Christine, Samin, Kapitayan, Dharma,
Buchori, dan Pangestu dengan bimbingan Bu Guru Matematika dan Pak Guru Biologi.
Pertanyaan para sahabat cilik dengan latar belakang agama yang berbeda tersebut
membuat kita harus ‘sedikit’ memainkan logika kita. Sedikit demi sedikit kita
akan larut dalam dialog tersebut sambil belajar tentang transendensi dan
imanensi Tuhan dan juga manifestasi ke-Asyik-kan Tuhan di alam raya ini.   

Bila
beragama dimaknai dengan benar, maka harmoni yang tercipta sangat indah.
Sekat-sekat antar agama yang eksklusif akan runtuh dengan tegaknya kesadaran
kemanusiaan yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur agama. Hal ini sebagaimana yang
diobrolkan Prof. Quraish Shihab dengan Romo Budi dalam ‘Shihab and Shihab’
bahwa bila seseorang semakin religius dan agamis, maka semakin toleranlah ia.
Ia akan melihat bahwa kemanusiaan ada di atas seluruh dinding agama tersebut.
Dalam kaos yang sering digunakan Tretan Muslim dan Coki Pardede adalah ‘Humanity
above religion
’.

Saya
jadi ingat salah satu Khotbah Pdt. Yerry Pattinasary yang menyuarakan bahwa
kita seringkali terjebak dalam kungkungan agama yang formalisme struktural.
Kita mengaku mengimani Tuhan, namun melakukan hal yang Tuhan kita benci. Kita
mengaku mengimani Tuhan dan di saat yang sama kita justru membangun dinding
tebal dengan mereka yang ‘kita anggap’ berbeda, padahal Tuhan ‘meminta’ kita
untuk merangkul seluruh makhluk-Nya dengan kelembutan hatiNya. Hal senada yang
dituliskan dan dikhotbahkan Pdt. Craig Groeschel tentang “The Christian
Atheist
” kepada mereka ‘iman kepadaNya namun (seakan) menjalani hidup
tanpaNya’ atau Sujana WS yang menulis ‘Mengislamkan orang Islam’.

Sebuah
kebetulan yang diatur oleh momentum ilahiah membaca buku ini setelah
menyelesaikan membaca buku ‘Tafsir al-Qur’an di Medsos’ milik Gus Nadhir.
Keduanya menyadarkan kita bahwa belajar ilmu agama dan ilmu-ilmu alat untuk
memahami al-Qur’an tidak serta merta melegalkan kita untuk menafsirkan apa yang
benar-benar ingin disampaikan oleh Tuhan kepada kita. Agama tidak hanya
berhenti di lembaran-lembaran pelajaran dan hafalan saja, namun ia harus
terinternalisasikan dalam laku gerak kehidupan kita. Pelajaran kita tentang
agama tidak pernah berakhir, bahkan baru saja dimulai.





Terakhir,
buku ini sangat direkomendasikan bagi siapapun yang ingin mencari jalan menuju
Tuhannya. Bincang-bincang ringan di dalamnya memiliki pesan-pesan yang padat,
berisi, dan bernas. Oh ya, salah satu sisi menarik buku ini adalah ia cocok
dibaca oleh berbagai kalangan umat beragama, baik agama sebagaimana yang
dipahami sebagai ‘agama resmi’ maupun agama dalam arti luas yang di dalamnya
mencakup pelbagai sistem kepercayaan manusia kepada kekuatan di atas kekuatan
manusia. Persis seperti lagu alm. Chrisye yang berjudul Damai BersamaMu yang
cocok dinyanyikan, didengungkan, dan direnungkan oleh penganut kepercayaan mana pun.

Rahayu!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top