Joker dan Semua Legalitas atas Kejahatan

Kembali ke papan tutsku
setelah sekian lama berkutat dengan hal lain adalah sebuah kebahagiaan. Banyak ide
dan renungan yang perlu didiskusikan antara aku, papan tutsku, dan layar putih
di depanku. Suatu usaha untuk bercerita tentang lelucon hari ini.

Sejak 2 Oktober
kemarin, lini masa di pelbagai sosial media dipenuhi dengan meme Joker dan quotesquotesnya.
Memang, supervillain yang menjadi musuh bebuyutan Batman ini baru saja
memiliki filmnya sendiri di layar lebar. Dengan diperankan oleh Joaquin
Phoenix, film ini mampu mengundang banyak pujian, kritikan, hujatan, bahkan
kecaman. Di IMDb sendiri, film ini mendapatkan rating 8,9/10. Artinya, mayoritas
penonton merasa “terhibur” setelah film ini.

Selain quotes,
banyak sekali artikel yang bertebaran yang berisi cara hidup Arthur Fleck
ditinjau dari berbagai aspek. Ada yang melihat dari psikologi penjahat,
pandangan psiko-analisis, pandangan sosiologi masyarakat, teori Sosial, dan
lain sebagainya. Berbagai perspektif juga akan melahirkan banyak pendapat, yang
tidak jarang, berbeda satu sama lain. Namun, tidak berlaku pada tulisan receh
ini. Hanya sekedar refleksi singkat pasca menonton dan memperhatikan banyaknya quotes
yang berseliweran.

Film ini mengangkat
kisah asal usul Arthur Fleck, seorang badut jalanan, menjelma menjadi seorang
Pangeran Kegelapan Kota Gotham. Premis yang dihadirkan sebenarnya sederhana. Arthur
yang hidup hanya berdua dengan ibunya, harus menjalani kerasnya kehidupan
sebagai seorang badut jalanan. Di sisi lain, ia juga mengidap kelainan mental
yang membuatnya sering tertawa tanpa sebab. Pekerjaan dan sisi psikologisnya
inilah yang menjadikannya bahan ejekan, hinaan, cacian, bahkan physical
bullying
dari orang-orang sekitarnya. Keadaan diperburuk dengan keadaan kota
Gotham yang carut marut. Karenanya, beberapa pengamat film mengatakan bahwa
Joker ini adalah Joker versi paling realistis.

Bagaimanapun, dengan
semua kesulitan fisik dan psikis yang ia hadapi, ia tetap dipaksa untuk selalu
tersenyum dan bahagia. Ibunya selalu berpesan bahwa ia dilahirkan untuk
menyebarkan tawa dan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Pesan inilah
yang ia pegang teguh. Hingga akhirnya ia pun sampai pada titik jenuh. Suatu titik
di mana ia sadar bahwa berpura-pura bahagia merupakan sebuah kebohongan yang
menyakitkan. Setelah semua kebohongan terkuak, ia pun mulai menyadari satu hal,yang
menjadi fokus mayoritas penonton, bahwa hidupnya yang ia anggap sebuah tragedi,
nyatanya adalah semua komedi.

Titik itulah yang
mengubah jalan hidupnya. Ia melakukan apa yang ia suka tanpa mempertimbangkan
baik dan buruk akibatnya. Setelah membunuh tiga orang pemuda di kereta bawah
tanah, ia menemukan bahwa membunuh nyatanya tidak sesulit itu dan rasanya
sungguh melegakan. Selanjutnya, secara berturut-turut, ia membunuh siapa saja
yang ia “anggap” jahat kepadanya. Mulai dari ibunya, Randall, Franklin Murray,
dan juga Thomas Wayne (meskipun ia akhirnya dibunuh oleh orang lain). Dari sinilah
muncul quotes “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”.

Setelah menonton film
ini, banyak penonton yang merasa bersimpati dengan Joker dan melegalkan semua
kejahatannya. Alasan semua kejahatannya sangat masuk akal untuk dipahami. Sehingga
semua perbuatan jahatnya hanya dianggap suatu pembelaan diri. Bahkan, tidak
sedikit yang terpengaruh untuk melampiaskan berbagai hinaan yang mereka terima
dengan gaya Joker. Inilah hal yang saya sebut “terhibur” di atas. Banyak para
penjahat atau mereka yang mempunyai niat jahat merasa memiliki teman senasib
dan mampu memberikan justifikasi atas perbuatan jahat mereka. Karenanya, tidak
mengherankan bila di beberapa negara, banyak polisi yang berjaga di sekitar
bioskop tempat film ini diputar.

Sebagaimana sering saya
tulis, film memiliki dua fungsi, yaitu sebagai alat konstruksi sosial dan
sebagai representasi realitas sosial. Bagi sebagian orang, film Joker ini
merupakan sebuah konstruksi sosial, di mana seseorang diajak memahami bagaimana
cara berpikir seorang penjahat saat berbuat kejahatan. Namun, bagi saya, film
ini lebih kepada sebuah representasi realitas.

Secara tidak sadar, ketika
hari-hari ini melihat berita, lebih dari 60% isinya berupa kabar tentang
kriminalitas. Tak cukup disampaikan dalam siaran Berita Utama, program yang
khusus menayangkan tindak criminal juga dibuat. Mulai dari Sergap, Buser, Derap
Hukum, hingga Ungkap. Berbagai isu kriminal pun jamak kita temukan, mulai dari
penculikan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. Bila kita
amati lebih lanjut, tidak sedikit tindakan kriminal yang dilakukan berlangsung
sangat sadis dan dilandasi alasan yang tidak masuk akal. Namun, bila
menggunakan pola pikir Joker, maka semua pelaku tersebut akan menganggap semua
tindakan kejinya adalah sebuah kenormalan dan kewajaran.

Sekitar tahun 2006, di
komplek tempat saya tinggal juga terjadi hal mengejutkan. Berawal dari perdebatan
mulut ketika bermain sepak bola, seorang pemuda ditemukan tewas dibacok. Hal ini
sungguh ironi. Entah apa yang terjadi di masyarakat kita. Hal yang pasti adalah
bahwa melakukan tindakan kriminal saat ini dianggap suatu hal yang wajar
dibandingkan harus memendamnya sendiri. Membunuh dianggap menjadi salah satu solusi
untuk mencapai ketenangan diri sendiri. Di sisi lain, karena kita sering
terpapar berita kriminal, kita sedikit demi sedikit menganggapnya menjadi
sebuah kewajaran. Hal inilah yang ingin disampaikan di film tersebut.

Marcus Aurelius dalam “The
Meditations
” jauh-jauh hari telah mengatakan “It’s normal to feel pain
in your hands and feet, if you’re using your feet as feet and your hands as
hands. And for a human being to feel stress is normal—if he’s living a normal
human life. And if it’s normal, how can it be bad
? (Aurelius, Book 6: 33). Kecewa,
sedih, dan rasa sakit adalah sebuah kewajaran saat kita hidup sebagai manusia.
Pink, dalam lagu terbarunya juga menekankan hal itu. It hurts to be human.
Bila hanya rasa sakit dan kesedihan menjadi legalitas untuk melakukan kejahatan
serupa atau bahkan lebih, apakah hal tersebut menyenangkan dan memuaskan?

Mungkin jawabannya iya.
Namun, ia hanyalah sebuah kebahagiaan semu dan temporer. Tidak lama, ia akan melakukan
perbuatan jahat serupa atau lebih saat menghadapi kesulitan dan kekecewaan
lainnya dalam hidup. Ia hanya akan selalu disibukkan dalam menilai seseorang
baik atau buruk dan mulai membunuh mereka yang buruk. Buruk adalah saat mereka
tidak sesuai dengan keinginannya dan baik adalah saat mereka berada satu jalur
bersamanya. Bila menyaksikan film “The Shack”, kita akan paham bahwa quotes
Marcus Aurelius ini sangat mengena:

You take things you don’t control and define them as “good”
or “bad.” And so of course when the “bad” things happen, or the “good” ones
don’t, you blame the gods and feel hatred for the people responsible—or those
you decide to make responsible. Much of our bad behavior stems from trying to
apply those criteria. If we limited “good” and “bad” to our own actions, we’d
have no call to challenge God, or to treat other people as enemies (Marcus Aurelius,
Book VI: 41).
 Hidup
bukan soal menilai baik atau buruk. Hidup adalah soal berbuat baik. Namun, di
film Joker, sebagaimana banyak didefinisikan oleh para pelaku kejahatan adalah
kebaikan adalah hal yang menyenangkan mereka. Di sinilah tarik ulur nilai
kebaikan menjadi semu dan bias. Kebaikan menurut siapa? Kejahatan menurut
siapa? Bagi mereka adalah masalah sudut pandang. Polisi lalu lintas dalam satu
pandangan dapat menjadi penjahat dan dalam pandangan lainnya adalah malaikat
penolong. Oleh karenanya, sudut pandangnyalah yang perlu kita perbaiki.
Setelah
Pink berkata “It’s hurt to be human”, ia melanjutkan “Without You (God),
I’d be losing
”. Nilai kebenaran dan keburukan sejatinya paten, hanya
aplikasinya yang kadang berubah-ubah. Kita harus memiliki satu pegangan dalam
menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kekuatan inilah yang mampu
memproses semua rasa sakit dan kekecewaan yang menjadi input dalam hidup
dapat menghasilkan output yang baik.

Bila kita jeli, di film Joker ada sosok
lain yang juga merasakan sakit dan kepedihan. Dia adalah Bruce Wayne, anak dari
Thomas Wayne yang menyaksikan kedua orangtuanya dibunuh secara keji di depan
matanya sendiri. Ia pun sejatinya memiliki alasan kuat untuk membunuh pembunuh
orangtuanya dan menjadi lebih kejam dari Joker. Namun, kenyataannya tidak
demikian. Anak itu mengolah semua kepedihan dan rasa sakitnya menjadi sebuah
kekuatan untuk mencegah orang lain merasakan kepedihan dan rasa sakit yang ia
rasakan. Ia pernah menjadi korban dan tidak ingin orang lain merasakan menjadi
korban seperti dia. Dalam bahasa saya adalah “memanusiawikan kekerasan”, yaitu
menempatkan diri sendiri bila menjadi korban. Bukan sebaliknya, merasa diri
menjadi korban dan melegalkan semua kejahatan sebagai tindakan pembelaan diri.

Inilah kisah kepahlawanan Batman dan
kejahatan Joker yang berasal dari rasa sakit dan kekecewaan. Hal serupa juga disajikan
dalam film superhero Indonesia “Gundala”, di mana Gundala dan Pengkor merupakan
dua anak yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya sejak masih kecil dan
merasakan ketidakadilan dunia ini. Bedanya, mereka mengolahnya dengan proses
yang berbeda. Joker dan Pengkor ingin orang lain merasakan penderitaan yang
mereka alami. Adapun Batman dan Gundala sebaliknya. Keduanya melakukan pesan
yang disampaikan Marcus Aurelius dan menjadi rujukan film “Acts of Vengeance”
bahwa balas dendam terbaik adalah tidak melakukan yang serupa (The best revenge
is not to be like that; Book VI:6).

Jadi, setelah semua kepedihan dan rasa
sakit, mau jadi apa kita? Joker atau Batman?

Ponorogo, 17 Shafar 1441
  

2 thoughts on “Joker dan Semua Legalitas atas Kejahatan”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top