Menikah itu (tidak) selalu indah

Salah satu topik hangat yang
digemari muda-mudi hari ini untuk diperbincangkan adalah masalah jodoh. Mulai
dari memilih orang yang disukai, mengungkapkan perasaan, bagaimana respon dari
orang yang disukai, berjalannya suatu hubungan, hingga berakhirnya suatu
hubungan, baik berakhir bahagia dengan pernikahan maupun berakhir kurang
bahagia dengan perpisaha. Semuanya menjadi topik yang selalu membuat para
muda-mudi siap mendiskusikan dan mendengarkannya selama berjam-jam.
Berbagai platform media juga
sering membawakan isu ini dalam berbagai varian. Isu ini dapat dibahas dalam
obrolan santai, obrolan humor, video parody, lagu romantis, lagu sedih (atau
yang sedang viral disebut ‘ambyar’), film, sinteron hingga meme-meme bertebaran
di dunia maya. Penyebaran ini secara tidak langsung membuat topik ini menjadi
tema utama dalam pikiran para remaja. Karenanya, obrolan ini tidak pernah
membosankan dan menjemukan.

Karenanya, tidak mengherankan
film “Milea: Suara dari Dilan” yang tayang sejak 13 Februari 2020, telah
ditonton sebanyak 3 juta kali pada 1 Maret 2020. Angka ini menyusul dua film
pendahulunya, yaitu Dilan 1990 (6,3 juta) dan Dilan 1991(5,25 juta). Trilogi
film ini bercerita tentang kisah percintaan sepasang muda-mudi meski harus
berakhir pada perpisahan.
Opini yang beredar di masyarakat,
khususnya pasangan muda-mudi, menikah adalah suatu impian yang sangat indah dan
penuh kebahagiaan. Karena opini inilah, mereka yang belum menikah atau bahkan
belum memiliki calon pasangan untuk menikah akan selalu dirundung oleh kawan
sekitar. Mereka menganggap bahwa mereka yang telah menikah adalah mereka yang “sempurna”
imannya dan yang belum menikah “belumlah sempurna” iman mereka.
Sejatinya, jomblo, berpacaran,
menikah, atau bahkan memiliki anak hanyalah fase yang berbeda. Tiap fase
tersebut telah diikuti dengan hak, kewajiban, dan tanggungjawab yang berbeda
satu sama lain. Tidak ada fase yang lebih mudah dan tidak ada fase yang lebih
sulit. Tidaklah bijak membanding-bandingkan satu fase dengan fase lainnya
karena pada hakekatnya mereka berbeda.
Hal inilah yang kemudian diangkat
menjadi tema film “Teman Tapi Menikah 2”. Film ini merupakan sekuel dari “Teman
Tapi Menikah” yang merupakan kisah percintaan antara Ditto dan Ayudia Bing
Slamet yang telah bersahabat selama 12 tahun. Film kedua ini menceritakan
kehidupan mereka setelah menikah yang (katanya) selalu indah.
Film ini menunjukkan bahwa
setelah menikah, kehidupan berumah tangga tidaklah semudah yang ada di pikiran
para pemuda-pemudi yang tengah dimabuk asmara. Dua orang yang berbeda dan
memiliki latar belakang yang berbeda disatukan dalam satu tempat selama waktu yang
lama. Konflik-konflik kecil antara keduanya tidaklah mungkin untuk dihindari.
Mulai dari hal kecil seperti hobi meletakkan pakaian sembarangan, cara makan,
cara tidur, hingga hal besar ketika sang Istri mulai mengandung dan kemudian
memiliki anak.
Tema yang ringan dan sangat dekat
dengan realitas kehidupan ini cocok untuk ditonton pasangan yang akan menikah,
baru menikah, bahkan mereka yang sudah lama menikah. Semua kisah tersebut sebagai
pengingat bahwa berbagai fenomena tersebut bukan hanya satu-dua orang saja yang
merasakan perjuangan setelah menikah. Namun, hampir seluruh pasangan yang sudah
menikah akan menikmati masa-masa tersebut.

Tema serupa juga diangkat oleh film
“Milly dan Mamet”. Film ini mengisahkan berbagai kegalauan pasca menikah
seperti istri yang masih ingin bekerja, namun di sisi lain ia harus mengasuh
anaknya yang masih bayi atau suami yang ingin bekerja sesuai passionnya, namun
tuntutan finansial membuatnya harus lebih realistis dalam mencari pekerjaan. Dua
hal yang terlihat sederhana, namun tidak sesederhana itu untuk menjalaninya.
Pernikahan adalah suatu gerbang
memasuki fase yang baru. Fase yang mungkin seindah impian mereka yang belum
pernah masuk ke dalamnya. Namun, mereka secara perlahan akan menyadari bahwa kehidupan
pernikahan yang indah butuh lebih banyak perjuangan. Usia pernikahan yang
sangat panjang, mulai dari mengucapkan akad hingga terakhir menutup mata
membuatnya membutuhkan konsistensi dan komitmen yang menjalaninya.
Fase ini juga merupakan fase
belajar seumur hidup. Menjemukan dan melelahkan memang. Karenanya, mereka yang
tidak tahan akan kejemuan tersebut memilih jalan lain yang tidak terhormat,
mencari pelampiasan ke orang ketiga hingga menyebabkan keretakan rumah tangga
mereka. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan dan perceraian di
Indonesia pada 2015-2017 meningkat. Dari data tersebut, pada 2017 misalnya, terdapat
374.516 perceraian dari total 1.936.934 pernikahan. Dengan kata lain, terdapat 1
pasangan yang menyerah dari setiap 5 pernikahan.
Hal inilah yang banyak dilupakan
para pasangan yang dimabuk asmara. Mereka menganggap bahwa bila telah sampai ke
pelaminan, mereka telah sampai di garis finish. Seakan semua akan selalu indah
seumur hidup mereka. Nyatanya, mereka justru baru saja memulai perjalanan baru
yang penuh warna, penuh rasa, penuh tantangan, dan memiliki ombak yang lebih dahsyat.
Kedua film di atas mengajak kita
semua untuk selalu mawas diri dan mempersiapkan diri memasuki fase selanjutnya.
Bukan sebaliknya, membuat kita malah semakin takut untuk memutuskan menikah,
memiliki anak, dan berkeluarga. Semua hal tersebut adalah indah bila kita memandangnya
sebagai sebuah ibadah dan pekerjaan yang kita cintai. Bila demikian, kita akan
menikmati bagaimana menjadi seorang suami dan ayah. Sebaliknya, bila kita
menganggapnya beban, maka setiap fase hidup hanya akan terlihat semakin berat
dan menakutkan.         
Ponorogo, 9 Rajab 1441/4 Maret
2020

2 thoughts on “Menikah itu (tidak) selalu indah”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top