Piala Dunia 2022 dan Usaha Qatar Menepis berbagai Kontroversi

Sebagaimana dijadwalkan, perhelatan sepakbola akbar sedunia akan dihelat pada akhir November 2022. Saat ini, berbagai tim nasional sepakbola dari seluruh penjuru dunia sedang berfokus dalam perebutan tiket putaran final Piala Dunia 2022 yang akan dihelat di Qatar. Namun, euforia persiapan momen empat tahunan tersebut harus dicoreng dengan beberapa isu, khususnya isu yang membayang-bayangi Qatar, negara penyelenggara.

Sejak awal ditetapkan menjadi tuan rumah, Qatar tidak pernah sepi dari berbagai terpaan isu miring. Pada 2010, Qatar berhak untuk menjadi penyelenggara menyingkirkan negara-negara lainnya seperti Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan Australia. Pemilihan tersebut diwarnai protes karena waktu penyelenggaraan yang berbeda dari jeda internasional pada umumnya, yaitu dari yang biasa dilaksanakan pada musim panas diundur pada musim dingin. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari cuaca panas ekstrim di Qatar, meskipun tentu akan berimbas pada penyelenggaraan berbagai liga sepakbola dunia.

Di samping itu, dugaan suap juga mencuat dalam pemilihan Qatar menjadi penyelenggara. Mohammad bin Hammam, mantan presiden Asian Football Association (AFC) dituding sebagai aktor di balik terpilihnya negara teluk ini. Perlu diketahui bahwa Bin Hammam berpaspor Qatar dan dituduh memberikan suap sekitar US$  1,5 juta kepada petinggi asosisasi sepakbola di Afrika untuk memilih Qatar dalam jajak pendapat terkait tuan rumah Piala Dunia 2022. Kasus ini sempat menyeret Michel Platini, mantan presiden UEFA terkait dugaan suap meskipun akhirnya dibebaskan.

Kontroversi Seputar PD2022

Qatar merupakan salah satu negara teluk yang kaya raya. Meskipun cadangan minyak Qatar tak sebesar Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, namun jumlah penduduk yang lebih sedikit membuat negara ini lebih kaya dari ketiga negara tersebut. Selain minyak, negara tersebut memiliki cadangan gas alam terbesar ketiga di dunia dengan 24,7 triliun meter kubik. Jumlah tersebut hanya kala dari Rusia (38 triliun meter kubik) dan Iran (32 triliun meter kubik).

Untuk menjadi tuan rumah, sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat. Sebagaimana dilansir oleh goal.com, FIFA melansir beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh penyelenggara, salah satunya adalah infrastruktur yang meliputi stadion dan fasilitas tim dan wasit.

Qatar merupakan negara yang minim tradisi sepakbola. Berbagai stadion sepakbola yang sudah ada nyatanya belum memenuhi standar FIFA untuk penyelenggaraan pertandingan piala dunia. Karenanya, sejak awal ditunjuk untuk menjadi tuan rumah, Qatar merencanakan membangun 12 stadion, yang terdiri dari 9 stadion  baru dan 3 renovasi. Namun, pada Desember 2014, proposal yang diajukan memangkasnya menjadi hanya 8 stadion.

Untuk memenuhi target tersebut, Qatar perlu merogoh kocek yang tidak sedikit. Dilansir oleh Bloomberg, biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan insfrastruktur mencapai US$ 300 juta. Angka tersebut tentu menjadi rekor tersendiri dalam kancah perhelatan turnamen ini. Bila dibandingkan dengan penyelenggara sebelumnya, Rusia, yang “hanya” menghabiskan dana US$ 11 juta, tentu angka ini merupakan lonjakan yang tajam.

Dalam menyelesaikan target tersebut, Qatar membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak. Dalam pelaksanaannya, Qatar melibatkan 95% tenaga kerja asing yang didominasi pekerja asal Asia Selatan. Besarnya target yang dipatok dan cuaca ekstrim menyebabkan angka kematian pekerja imigran cukup tinggi. Laporan Guardian pada 23 Februari mengindikasikan ada pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan perlakuan terhadap pekerja migran. Disebutkan bahwa lebih dari 6.500 pekerja migran  meninggal sejak Qatar terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia pada 2010. 37% dari total kematian tersebut berkaitan dengan proyek pembangunan stadion.

Pada 2013, Guardian dan Amnesty International menemukan kasus-kasus adanya eksploitasi pada pekerja migran tersebut. Pada 2016, Amnesty juga mengungkapkan temuan dalam artikel berjudul “Qatar World Cup of Shame” yang berisi tentang besarnya modal seorang pekerja migran untuk berangkat ke Qatar dan kecilnya gaji yang diterima. Laporan tersebut diperkuat dengan temuan terbaru Guardian pada 2021. Hal ini yang membuat beberapa negara seperti Jerman dan Norwegia melayangkan protes dalam bentyuk mengenakan kaus bertuliskan “Human Rights” sebelum pertandingan kualifikasi (25/3/2021).

Angka tersebut masih belum dikonfirmasi oleh otoritas pemerintah Qatar karena kurangnya transparansi perihal hal tersebut. Mereka beralasan selalu terbuka terkait kesehatan para pekerja dan menyebutkan sejak 2014, ada 3 kematian terkait pekerjaan dan 35 kematian tidak terkait pekerjaan. Namun yang pasti, sejak 2020, Qatar mulai menerapkan peraturan baru terkait pelonggaran ijin kerja dan penetapan upah minimum guna melindungi hak para pekerja migran.

 

Usaha “Pembersihan Diri” Qatar

The show must go on. Meskipun diwarnai oleh berbagai kontroversi, Piala Dunia 2022 tetap akan dilangsungkan di Qatar. Sampai saat ini, sudah ada 4 stadion megah yang telah diresmikan. Pertandingan kualifikasi antar zona juga sudah berjalan.

Menjadi tuan rumah Piala Dunia memiliki arti penting bagi negeri yang berpenduduk 2,8 Juta jiwa pada 2019 tersebut. Dengan adanya PD2022, Qatar resmi menjadi negara Timur Tengah pertama yang akan menjadi tuan rumah pesta sepakbola sejagad tersebut. Meskipun dalam persiapannya menimbulkan banyak kontroversi, Qatar menjanjikan pengalaman yang berbeda dari piala dunia edisi lainnya.

Sebagaimana dilansir oleh gulf-times, Qatar juga mempromosikan akan menjadi Piala Dunia pertama yang bebas karbon selama proyek pengerjaannya. Hal tersebut ditegaskan oleh Abdulrahman al Muftah, ahli di bidang lingkungan yang terlibat dalam proyek tersebut.

Selain pembangunan stadion, piala dunia ini juga merupakan ajang memperkenalkan Qatar pada para pengunjungnya. Karenanya, berbagai infrastruktur akomodasi dan transportasi nomor wahid juga tidak luput dari persiapan pesta sepakbola tersebut. Ditargetkan pada kisaran November – Desember 2022, 105 hotel baru dan apartemen kelas satu akan dipersiapkan. Hal ini juga dalam rangka menyajikan pengalaman yang berbeda tentang destinasi wisata di Qatar, khususnya selama penyelenggaraan PD2022. Diberitakan juga bahwa disediakan kamar supermewah di stadion al-Bayt di kota al-Khor sebagai bentuk pengalaman luar biasa dalam menikmati piala dunia.

Di samping itu, perusahaan teknologi Hisense resmi menjadi sponsor resmi PD2022. Mereka juga menjanjikan akan menghadirkan cara yang unik dan menarik untuk menciptakan hubungan eksklusif kepada para penonton. Hal ini adalah untuk memberikan layanan prima selama penyelenggaraan pesta olahraga empat tahunan tersebut.

Berbagai cara tersebut dilakukan adalah menunjukkan eksistensi sebagai negara yang tidak hanya kaya, namun juga berpengaruh dalam percaturan politik di kawasan Timur Tengah. Hingga saat ini, Arab Saudi masih identik sebagai penentu kebijakan politik di Timur Tengah. Karenanya, Qatar ingin mendobrak dominasi tersebut dengan event ini. Kesuksesan Qatar dalam menyelenggarakan PD2022 akan memiliki pengaruh besar dalam menunjukkan eksistensi Qatar di Timur Tengah meskipun harus diterpa berbagai isu miring di atas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top