Hakikat Ibadah

Dalam perjalanan kehidupannya, manusia banyak menciptakan berbagai alat dan perkakas untuk memudahkan urusan dalam hidupnya. Berbagai penemuan dan terobosan dibuat manusia demi tujuan-tujuan tertentu. Semua penemuan dan hasil karya manusia tersebut memiliki nilai dan manfaat yang beragam, sesuai dengan penggunaan dan pemanfaatannya. Karenanya, harga atau nilai segala sesuatu terletak pada penggunaan dan pemanfaatannya sesuai tujuan dan maksud dari penciptaan dan pembuatannya. Sebagai contoh, tujuan penemuan telepon genggam adalah untuk mempermudah manusia untuk berkomunikasi satu dan yang lainnya. Semakin sering ia digunakan untuk berkomunikasi, semakin bermanfaat dan semakin tinggi nilai yang dimilikinya. Sebaliknya, bila ia hanya digunakan sebagai gantungan kunci atau sekedar penghias meja maka nilai akan berkurang drastis, bahkan terancam hilang.

Hal tersebut berlaku pula dengan tujuan awal penciptaan manusia. Manusia dan jin diciptakan oleh Allah SWT semata-mata hanya untuk beribadah dan menyembah kepadaNya sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Adz-Dzaariyaat ayat 56. Semakin seorang manusia dan jin beribadah, semakin tinggi pula harga dan nilai dirinya. Sebaliknya, semakin ia berbuat sesuatu di luar hal ibadah, semakin turun dan jatuh harganya.

Lantas sudahkah kita beribadah? Cukup benarkah ibadah yang kita lakukan? Kedua pertanyaan tersebut akan selalu membayangi kehidupan kita di dunia yang fana ini. Bila tidak, mungkin hati kita telah tertutup berbagai noda-noda kemaksiatan sehingga menghalangi pantulan cahaya Ilahi. Kita sering melakukan berbagai bentuk ibadah dalam keseharian kita, baik ibadah yang bersifat wajib maupun sunnah. Namun hal lain yang perlu kita sadari adalah seringkali kita melakukan serangkaian ibadah, padahal kita tidak benar-benar beribadah. Sebaliknya, banyak sekali mereka yang hanya duduk merenung atau melakukan pekerjaan biasa namun justru bernilai ibadah.

Sejatinya para ‘alim membagi ibadah ke dalam dua bentuk, yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghairu mahdloh. Ibadah yang pertama merupakan berbagai prosesi ibadah yang telah kita ketahui seperti shalat, puasa, sedekah, zakat, puasa, menunaikan haji, dzikir dan istighfar dan membawa al-Qur’an. Adapun ragam yang kedua meruapak berbagai aktivitas duniawi yang bernilai ibadah atau berdimensi akhirat. Mulai dari makan, minum, tidur, belajar, bekerja bahkan buang air, semuanya dapat bernilai ibadah bila didasari ketakwaan padaNya dan dalam rangka meraih ridhaNya. Karena inti dari ibadah adalah bentuk pekerjaan atau perbuatan dalam rangka mendekatkan diri padaNya.

Salah satu indikasi ibadah seseorang membuatnya semakin dekat kepada Sang Maha Pencipta adalah tidak adanya masalah dan kesulitan yang ia hadapi dalam hidup. Hal ini tidak serta merta membuat segala urusannya lancar dan mudah, melainkan ia tetap menemui banyak batu-batu terjal dan kesukaran dalam hidup. Namun ia menghadapinya dengan lapang dada, penuh kesabaran dan ketawakalan sehingga ia dapat melaluinya. Sungguhpun ia mengalami kesulitan yang dahsyat, hal tersebut tidaklah menggoyahkan imannya dan ketaatannya kepada Sang Maha Kuasa. Ia selalu yakin bahwa rahmat dan pertolonganNya tidak akan terputus kepada hamba yang mengimaniNya.

Bila berbagai ujian hidup masih membuat kita jauh dariNya dan membuat kita mempertanyakan letak rahmatNya, kemungkinan besar kita belum ikhlas dalam beribadah. Kemungkinan lain adalah ibadah kita belum bernilai ibadah di hadapanNya. Karenanya ada beberapa tips dalam beribadah yang dapat membantu kita semakin dekat padaNya. Tips tersebut tergabung dalam 4T, yaitu:

  1. Tawajjuh, yaitu kita perlu sadari bahwa saat beribadah (seperti shalat) kita sedang berhadapan langsung dengan Sang Pencipta. Masihkah kita berani mendongakkan kepala kepada pemiliki jiwa dan raga kita?
  2. Tadzallul, yaitu merasa diri hina. Sadarkah kita saat menghadap Sang Pencipta kita berada dalam kondisi yang kotor? Betapa banyak dosa dan kekhilafan yang menyelimuti diri kita, baik dosa lahir maupun batin. Tidakkah kita malu dengan semua dosa tersebut?
  3. Tadlarru’, yaitu menghadapNya dengan penuh ketundukan. Kita harus sadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang harus dibanggakan di hadapanNya. Semua ibadah dan kebaikan yang kita lakukan, bukankah sudah menjadi kewajiban kita? Menjauhi segala dosa dan maksiat, bukanlah merupakan sebuah kelaziman sebagai hambaNya?
  4. Ta’abbud, yaitu merasa diri hamba padaNya. Selaiknya seorang hamba sahaya menghadap majikan sekaligus rajanya dengan penuh ta’dzim dan kehati-hatian, seperti itu pula yang kita lakukan saat beribadah dan menghadap padaNya.

Empat tips tersebut diharapkan dapat membuat kita semakin meneguhkan iman dalam hati dan rasa tunduk kepadaNya saat sedang beribadah.

Selain itu, perlu kita sadari bahwa dosa yang kita lakukan amat banyak sekali, bahkan cukup untuk disematkan label “keterlaluan”. Mengapa tidak? Tidakkah kita tahu bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui semua perbuatan dan perkataan kita. Manakala kita tetap menerobos lampu merah saat para polisi sedang stand by merupakan sebuah tindakan bodoh, tidakkah sama dengan apa yang kita lakukan? Kita tetap melakukan dosa dan maksiat sedang kita sadar tak satupun dapat luput dari pengawasanNya?

Ketika kita berbuat dosa kita harus sadari bahwa kita sedang berbuat dosa di bumi Allah. Ibarat kita menenggak minuman keras dan berjudi di teras rumah seorang polisi yang sangat anti dengan minuman keras dan perjudian. Bila bukan bunuh diri, lantas disebut apakah perbuatan kita tersebut? Bila kita ingin bermaksiat, hendaknya kita mencari tempat di luar bumiNya dan di luar semestaNya. Mampukah kita?

Kita juga berbuat dosa dengan menggunakan berbagai nikmat yang telah Ia anugerahkan pada kita. Tidakkah kita malu? Ibarat kita menyombongkan harta yang diberikan orang tua di hadapan mereka sendiri. Bukannya mensyukuri, kita justru sibuk mempergunakannya untuk dosa dan maksiat. Semua renungan kala berdosa tersebut hendaknya selalu dihadirkan dalam diri kita, terutama saat kita beribadah menghadapNya. Mengapa seringkali kita lebih takut kepada makhlukNya daripada kepada Sang Pencipta seluruh makhluk? Tanpa rahmatNya, kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap semua kabut dosa yang telah menyelimuti diri kita.

Sebagai hamba yang diciptakan untuk menyembah hanya kepadaNya, tidak sepantutnya kita berbuat dosa dan mengingkari perintahNya. Semakin kita berbuat dosa, meninggalkan perintahNya dan menjalankan laranganNya, semakin jatuh pula nilai dan harga diri kita di mataNya. Bila kita tidak lagi berharga di hadapanNya, bukan tidak mungkin Ia tidak akan menganggap kita sebagai hambaNya dan harus berakhir dalam siksaNya yang kekal nan abadi.

Bila ridhaNya telah kita dapatkan, perlukah kita bersedih saat kehilangan satu hal kecil dalam hidup? Bila ibadah kita sudah benar, sudahkah kita merasa lebih tenang dalam mengarungi lautan kehidupan setelah beribadah? Bila kita merasa sudah dekat denganNya, sudahkah kita merasa mudah berbuat baik dan dipersulit dalam berbuat dosa?

Mari kita renungi bersama.

 

Disadur dari ceramah al-Ustadz H. Syatori Abdurrauf di Masjid Kampus Bulaksumur, 29 Shafar 1439.

1 thought on “Hakikat Ibadah”

  1. Pingback: COVID-19: ‘Dosa’ siapa? - Yuanggakurnia.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top