Nilai Ujian

Tulisan ini masih berkisar tentang ujian. Bila sebelumnya
berbicara tentang ujian lisan, maka ini lebih ke ujian secara umum, khususnya
di bangku perkuliahan, yang meliputi ujian tulis, ujian lisan, dan tugas.
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat salah seorang dosen muda menyerahkan
nilai ke sekretaris prodi. Saya pun iseng ingin melihat nilai yang diraih anak
didiknya. Ternyata hasilnya cukup membuat saya terkejut. Nilai tertinggi yang
diraih oleh anak didiknya adalah B- dan itu hanya terbatas pada beberapa orang.
Mayoritas mendapatkan nilai C atau C-. Padahal kelas tersebut dihuni oleh 43
mahasiswa.

Bila ditanya, ia pun akan menjawab ‘Anak-anaknya pada enggak
bisa mengerjakan ujian’. Jawaban yang mudah dan diplomatis. Karena dengan jawaban
tersebut, ia terlihat sudah mengeluarkan berbagai cara untuk mengajari para
mahasiswa. Namun, mahasiswa tersebut yang tidak bisa mengikuti pelajarannya.
Pendek kata, itu bukan salah dosen, namun murni kesalahan mahasiswanya.

Mengapa nilai tersebut membuat saya terkejut? Karena saya
juga mengajar kelas yang sama, di hari yang sama, dan setelah jam pelajaran
dosen tersebut. Saya mengajar di jam paling akhir. Artinya, mereka sudah masuk
kelas dengan tenaga-tenaga sisa setelah dioptimalkan di pelajaran-pelajaran
sebelumnya. Namun, respon mereka tetap penuh semangat dan antusiasme.
Saya mengajar mereka selama 2 semester ini. Saya melihat
memang ada beberapa mahasiswa yang memiliki kesibukan tersendiri sehingga
jarang terlihat di dalam kelas. Namun, mayoritas mahasiswa tersebut masuk kelas
meskipun agak terlambat-terlambat sedikit. Mereka juga semangat mengikuti
pelajaran.
Semangat mereka untuk mengikuti pelajaran tidak saya
sia-siakan. Saya juga memberikan berbagai tugas-tugas yang ringan sebagai
penambah nilai harian dan soal ujian UTS dan UAS yang memang sudah mereka
pelajari dan persiapkan sebelumnya. Tak mengherankan, nilai yang mereka
dapatkan ketika ujian juga sesuai harapan.
Mahasiswa yang sama dan hari yang sama dengan pengajar yang
berbeda bisa menghasilkan input yang berbeda. Beberapa teman saya sesama
pengajar, baik di bangku KMI dulu atau di bangku perkuliahan saat ini, banyak
yang memiliki alergi saat akan mengajar. Mereka langsung merasakan illfeel
saat harus mengajar di salah satu kelas. Mereka beralasan ‘ kelas ini kan
muridnya malas-malas’ atau ‘anak-anak di kelas ini pasti jarang masuk’. Bahkan,
adapula yang memiliki alasan jam mengajar yang tidak ‘pas’ yang membuatnya
malas mengajar. Ia berkata ‘ah, sudah jam pelajaran terakhir, mereka juga sudah
pasti tidak konsentrasi dan pada ngantuk. Jadi, untuk apa saya membuat
persiapan mengajar yang baik?’
Berbagai fenomena ini memang sudah sering saya dengar.
Bahkan, seringkali saya juga mengajar kelas-kelas – yang dilabeli – bermasalah
tersebut di jam-jam pelajaran terakhir. Ternyata respon yang mereka berikan
tidak seburuk kisah yang beredar. Mereka hanyalah anak-anak biasa yang juga
ingin belajar. Hanya saja, beberapa pengajar mereka – yang mengajar tanpa
semangat dan persiapan – sudah menjudge bahwa mereka anak yang lemah dalam hal
pelajaran dan tidak akan paham apapun yang disampaikan.
Saya beranggapan bahwa semua anak adalah sama. Mereka,
sebagai peserta didik, memiliki hak dan kewajiban yang sama. Baik mereka memang
memiliki keunggulan akademis, maupun mereka yang lemah secara akademis.
Keunggulan akademis tersebut ada yang merupakan bakat bawaan atau hasil dari
belajar keras mereka. Namun, ini bukanlah sebuah alasan bagi seorang pengajar
untuk membeda-bedakan mereka.
Setelah menonton film ‘Great Teacher Onizuka’ dan ‘God
of Study
’, saya banyak sekali mengambil pelajaran bahwa menjadi guru itu
menyenangkan, namun berat. Karena berat, banyak guru yang hanya menjadikan
kegiatan mengajar sebagai sebuah kegiatan formalitas. Asal ada materi dan
menggunakan metode yang tepat, maka ia sudah – dianggap – telah melaksanakan
kegiatan pengajaran, Adapun para peserta didik merasa betah di kelas, menikmati
pelajaran, mendengarkan apa yang dikatakan, dan memahami pelajaran, itu bukan
kewajiban para guru.
Karenanya, salah satu filosofi mengajar guru saya sangat
luar biasa dan bermakna. Beliau mengatakan bahwa ‘metode mengajar itu lebih
penting dari apa yang diajarkan dan pengajar sendiri menjadi lebih penting dari
metodenya. Namun, jiwa pengajar (ruh al-mudarris) lebih penting dari
pengajar itu sendiri’. Ini bukan tentang apa yang diajarkan dan metode
mengajar, tapi bagai guru tersebut membawa jiwa mengajarnya di dalam kelas dan
menularkannya kepada para peserta didiknya.
Karenanya, saat mengajar apapun, di kelas manapun, dan di
jam pelajaran manapun, saya selalu menekankan dalam diri saya bahwa mengajar
ini adalah sebuah tugas berat dan penting. Hal pertama yang saya lakukan adalah
membuat anak-anak senang berada di dalam kelas. Salah satu kalimat bijak
mengatakan bahwa untuk dapat menikmati suatu pekerjaan, kita harus dapat
menikmati pekerjaan tersebut, teman di tempat kerja, atau suasan di tempat
kerja. Begitupula dalam belajar. Minimal, ada satu hal yang membuat anak-anak
tersebut betah di kelas dan di pertemuan selanjutnya mereka akan semangat untuk
datang kembali.
Membuat mereka senang dan betah bukan hal mudah. Perlu ada
selingan-selingan agar kelas tidak terasa membosankan. Atau bisa juga membuat
para peserta didik bangga atau ngefans dengan guru tersebut. Dr. Sugiyono dari Dewan Eksekutif BAN-PT pernah mengajari kami untuk menjadi dosen
atau guru yang dibanggakan anak didiknya. Caranya, ya harus terlebih dahulu
memiliki prestasi yang membanggakan. Sehingga suatu ketika, anak didik kita akan
berkata dengan bangga ‘saya beruntung pernah diajar beliau’.
Karena masalah kecerdasan itu bervariasi, maka kita juga
tidak boleh monoton dalam menjelaskan, memberikan pelajaran, memberikan tugas,
dan memberikan pelajaran. Bila kita menyerah pada perbedaan tersebut, lantas di
manakah semboyan ‘dalang tidak boleh kehabisan ide’? Bukankah guru menjadi
‘dalang’ di dalam kelas yang mengatur bagaimana jalannya kelas tersebut.
Tugas dan ujian yang diberikan juga seharusnya sesuai kadar
kemampuan mereka dan sesuai dengan apa yang telah mereka pelajari. Karena di
bangku kuliah soal merupakan hak preogatif dosen pengampu, justru mereka dapat
memperkirakan apa saja soal yang sudah mereka ajarkan dan bisa dijawab.
Bila beberapa anak tidak dapat menjawab dengan tepat, maka
evaluasi bisa jadi kepada peserta didik tersebut. Namun, apabila mayoritas
bahkan seluruh anggota kelas tidak bisa menjawab soal tersebut, hal ini
menunjukkan bahwa ada yang salah pada kegiatan pengajaran tersebut atau justru
soal yang ditanyakan.
Mengingat cuplikan dari buku ‘at-Tarbiyah wa at-Ta’lim’
yang diajarkan di KMI dulu, bahwa mengajar dan mendidik adalah dua hal yang
berbeda. Mengajar adalah transfer ilmu dari guru ke murid dan  merupakan salah satu cara mendidik. Namun,
mendidik memiliki makna yang lebih luas dari sekedar mengajar. Mendidik adalah
membentuk karakter murid di kelas dengan pelajaran yang disampaikan. Karenanya,
berbagai kerangka kurikulum yang disusun, mulai dari KBK, KTSP, KKNI, dan
sekarang OBE menekankan pada apa yang didapat oleh murid setelah mengikuti
pelajaran tersebut. Tidak hany terbatas hafal dan paham, namun kepada praktik
apa yang telah mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Terakhir, mengajar dengan diikuti persiapan yang baik,
metode yang baik, dan ruh pengajar yang maksimal tidak selalu memberikan hasil
yang maksimal juga. Syeikh az-Zarnuji dalam kitab ‘Ta’lim al-Muta’allimThariqu at-Ta’allum’ menyebutnya sebagai tawakal. Tawakal diperlukan
setelah murid belajar dengan maksimal dengan semua petunjuk yang ada dan juga
setelah guru mengeluarkan kemampuan maksimalnya dalam mengajar. Apakah ilmu ini
dapat dipahami apalagi bermanfaat, merupakan tugas kekuatan di atas kekuatan
manusia. Ada kehendak Allah di situ.
Sebagaimana guru itu seperti Rasul atau Nabi, maka
sebagaimana mereka, para pengajar juga tidak bisa memberikan petunjuk,
pelajaran, pemahaman kepada siapa yang mereka inginkan. Hanya Allah yang
menghendaki kepada siapa ilmu itu akan dianugerahkan. ‘Engkau (Muhammad) tidak
dapat memberikan petunjuk kepada siapa yang kamu sukai, tetapi Allah memberikan
petunjuk kepada siapapun yang Dia kehendaki’ pesan Allah kepada Nabi Muhammad
SAW, seorang Rasul yang diutus untuk menjadi pengajar (mu’allim) bagi
seluruh alam.
Mari mengajar dengan hati dan cinta serta belajar dengan penuh
cinta dan hati yang penuh
22 Sya’ban 1441/15 April 2020

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top